Minggu, 01 Januari 2017

TRANSISI HARAPAN

Aku berada diantara muara
Jiwa dan angan seperti ditikam kenangan
Berlari kesana kemari
Beranjak tapi tak pergi
Kemana kau sepi?

Pada diam aku bicara
Pada bisunya hening malam
Untuknya kubisikkan suara
Resah, gelisah, amarah,
Beradu ditepi surga

Perlahan datang senyuman
Bersama cahaya bulan
Berikan aku terang
Sinari aku cahaya

Tapi jangan kau rampas pikiran
Disana terukir sejuta kenangan
Bersanding ribuan harapan

NODA ZAMAN

Tak butuh waktu untuk berkata tidak
Tak butuh logika untuk segera menolak
Ketika kezaliman senyata setan pada manusia
Apakah perlu ragu untuk melawannya?

Aku tak mau terus memelihara sabarkukarena tak ingin hina aku pada nuraniku
Sebab bukan pada sekumpulan topeng aku mengabdi
Bukan pula pada sekawanan bedebah negeri

Serapah apa yang harus aku tumpahkan?
Pada mereka para begundal bebal
Mata yang mestinya terang ternyata palsu dan di butakan
Seribu pasang kuping pun telah mampet tersumpal

Maka kebenaran harus diikhtiarkan
Kebenaran tak boleh diam dalam tenggorokan
Ini wajib disuarakan
Diterakan dalam kalam warta
Agar tak dicatat sebagai noda zaman