Senin, 13 Maret 2017

Rumah dan rindu

Sejauh-jauh pergi
Sejauh-jauh melangkah
Aku ingat rumah…

Seindah-indah tempat
Senyaman-nyaman keadaan
Aku ingat rumah…

Dalam detik tersirat rindu
Menggebu…menderu…
Sadar, sekarang aku jauh
Jauh dari surga lainku, rumah.

Dalam pelukan Ibu,
Aku rindu…
Dalam rangkulan Ayah
Aku rindu…

Aku merindukan itu
Senyum dari wajah keriput Ibu
Belaian tangan Ayah yang kasar karena kerja keras demi aku…

Untuknya, do’a dan rindu selalu…

Jumat, 03 Maret 2017

BERAS DAN AIR MATA

Makassar 4 Maret 2017

Pagi yang sedikit sejuk dengan polusi yang yang tak ingin ketinggalan ambil bagian. Tepat 05.40 di pinggir jalan toddopuli raya timur, saya melihat seorang kakek tua berkaca mata yang sedang bersusah payah mendorong sepedanya. Dimana pada tempat duduk bagian belakang sepeda tersebut, ia membawa 2 karung beras yang akan dijualnya ke pasar. Sepeda itu dia dorong sedikit demi sedikit karena beras tersebut terlalu berat untuk dibawa oleh orang tua seperti dia meskipun menggunakan sepeda.

Saya pun memintanya minggir dan berhenti. Mata saya tak berhenti berkaca-kaca setelah tahu kalau mata sebelah kirinya sudah tak bisa melihat lagi. Seketika air mata saya jatuh. Saya langsung teringat ayah saya di kampung di mana sebelah matanya juga sudah tak bisa melihat.

Setelah orang tua itu berhenti, saya pun bertanya dia mau ke mana. Dan benar dugaan saya kalau dia mau jualan ke pasar. Awalnya saya ingin membeli berasnya agar lebih ringan lagi di bawanya. Namun belakangan saya berfikir, kenapa tidak saya kasih uang saja dan berasnya nanti dibeli orang lain sehingga dia punya penghasilan lebih untuk hari ini.

Beberapa menit kemudian, saya pun memutuskan untuk memberinya uang dan berkata padanya dengan memakai bahasa makassar "salama'ki' nah...kudo'akanki sehat selalu". Dia pun menjawab "a'jappamako nak, tarimakasi'" Dia pun melanjutkan perjalanannya yang begitu berat...

Lewat tulisan ini, saya sangat berharap uang itu bisa bermanfaat bagi dia. Meskipun tidak seberapa, namun dilain sisi saya terus bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang tua yang renta seperti dia masih dibiarkan mencari nafkah sendiri. Apa dia tidak punya anak? Kalau memang tidak punya anak, apa dia tidak punya keluarga sama sekali? Kalau keluarganya tidak peduli, apa dia tidak punya tetangga? Atau apakah dia tidak punya rumah? Atau mungkin pemerintah??? Entahlah...

Pagi ini benar-benar membuat saya tersentuh. Saya sering melihat fenomena-fenomena sosial seperti ini di dunia maya yang sering di posting orang baik itu melalui statusnya secara langsung maupun di beberapa grup seperti facebook misalnya, namun baru kali ini saya benar-benar mengalaminya. Ada apa sebenarnya dengan kehidupan ini???

Saya terus-terusan dihantui rasa tidak terima dengan keadaan yang dialami orang tua tersebut. Dari lubuk hati yang paling dalam, dengan penuh harap saya meminta kepada Tuhan untuk memberinya kekuatan, kesehatan serta rezeki yang lebih.

Semoga apa yang saya tulis ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Syukuri apa yang kita miliki selagi kita masih bisa untuk bersyukur.
Saya ingat sebuah kalimat, "JIKA HIDUP SEPAHIT KOPI, MAKA BERSYUKUR ADALAH GULANYA" Saya sangat yakin kalau orang tua yang saya temui tersebut adalah orang yang pandai bersyukur hingga ia masih diberi umur panjang untuk hidup di dunia yang orang-orang sebut "kejam" ini...

Try warits alfarizi

Minggu, 01 Januari 2017

TRANSISI HARAPAN

Aku berada diantara muara
Jiwa dan angan seperti ditikam kenangan
Berlari kesana kemari
Beranjak tapi tak pergi
Kemana kau sepi?

Pada diam aku bicara
Pada bisunya hening malam
Untuknya kubisikkan suara
Resah, gelisah, amarah,
Beradu ditepi surga

Perlahan datang senyuman
Bersama cahaya bulan
Berikan aku terang
Sinari aku cahaya

Tapi jangan kau rampas pikiran
Disana terukir sejuta kenangan
Bersanding ribuan harapan

NODA ZAMAN

Tak butuh waktu untuk berkata tidak
Tak butuh logika untuk segera menolak
Ketika kezaliman senyata setan pada manusia
Apakah perlu ragu untuk melawannya?

Aku tak mau terus memelihara sabarkukarena tak ingin hina aku pada nuraniku
Sebab bukan pada sekumpulan topeng aku mengabdi
Bukan pula pada sekawanan bedebah negeri

Serapah apa yang harus aku tumpahkan?
Pada mereka para begundal bebal
Mata yang mestinya terang ternyata palsu dan di butakan
Seribu pasang kuping pun telah mampet tersumpal

Maka kebenaran harus diikhtiarkan
Kebenaran tak boleh diam dalam tenggorokan
Ini wajib disuarakan
Diterakan dalam kalam warta
Agar tak dicatat sebagai noda zaman